Tuesday, November 20, 2007

Kejutan Minyak

Harga minyak mentah dalam kurun waktu 1 bulan terakhir sudah mencetak rekor baru dalam sejarah perminyakan dunia, yaitu hampir mencapai angka USD 100 per barrel. Lonjakan harga tersebut, terutama akibat peningkatan demand sebagai konsekuensi perekonomian global yang tumbuh cepat, terutama oleh China dan India , termasuk AS yang secara konvensional merupakan konsumen energi terbesar. Penyebab lainnya adalah krisis geopolitik, terutama di Kawasan Timur Tengah yang hingga saat belum menemukan formula solusi yang tepat, serta adanya sentimen pasar yang menyebabkan harga minyak melambung secara tidak proporsional.
Kondisi tersebut sangat berdampak bagi perekonomian Indonesia , terutama untuk beberapa hal berikut:
(1)        Melonjaknya subsidi Energi, mencapai Rp 130-an juta, yang terdiri dari subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sekitar Rp 90 triliun dari semula sekitar Rp 50 triliun dan subsidi Tarif Dasar Listrik (TDL) menjadi sekitar Rp 40 triliun dari semula  sekitar Rp 32 triliun;
(2)        Lonjakan inflasi;
(3)        pengurasan nilai asset;
(4)        penurunan daya beli;
(5)        Penurunan sisi permintaan; dan
(6)        peningkatan biaya produksi dalam ekonomi nasional.

 

Efek lanjutan dari berbagai persoalan tersebut adalah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Sekalipun, Pemerintah dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan bahwa APBN masih aman karena terjadinya keseimbangan pembayaran yang didukung oleh peningkatan relisasi penerimaan migas.
Selain itu, Pemerintah juga telah menyiapkan beberapa scenario sebagai respon terhadap lonjakan harga minyak tersebut, antara lain: Pertama, pengalokasian dana Rp 7 triliun sebagai pos cadangan umum yang hanya akan digunakan jika produksi minyak terealisasi di bawah target APBN 2008, yaitu sebesar 1,034 juta barrel per hari; Kedua, meningkatkan kontribusi badan usaha milik negara (BUMN) yang diperkirakan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak dan gas, yakni Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara, berupa kenaikan setoran dividen; Ketiga, memaksimalkan pungutan ekspor dari komoditas yang mengalami kenaikan nilai ekspornya, terutama minyak sawit mentah (CPO), karet, dan produk tambang.
Namun demikian, tetap saja tidak akan semudah yang direncanakan. Sebab, di tengah lonjakan harga crude oil saat ini, produksi minyak bumi nasional tetap saja sulit untuk ditingkatkan. Hingga kwartal III tahun ini, level produksinya baru pada kisaran 890.000 barel perhari, masih jauh di bawah target produksi nasional sebesar  1,034 juta barrel per hari. Di sisi lain, konsumsi BBM di dalam negeri tetap stabil pada kisaran 1,3 juta barel per hari. Artinya, supply energi dalam negeri semakin tergantung kepada minyak impor yang pada akhirnya akan semakin menyulitkan keuangan negara dan akan selalu memicu instabilitas perekonomian nasional.
Pertanyaan mendasarnya adalah “Apakah Kejutan-kejutan harga minyak yang bergerak secara leverage dan semakin unpredictable secara berulang dalam kurun waktu terakhir ini, belum  juga menyadarkan kita semua untuk segera melakukan pembenahan manajemen energi nasional???”

Posted by cili in 08:53:17 | Permalink | No Comments »

Friday, November 2, 2007

Kisruh Energi di Tahun 2007

 

Beberapa issue sentral yang cukup menonjol di sektor energi dunia  di tahun 2007, antara lain:
1. Terjadinya dua kali Lonjakan harga minyak bumi di awal-tengah tahun (mencapai kisaran USD 70-an) dan saat ini (sudah menghampiri angka USD 100).
2. Peningkatan produksi  dan perluasan demand bio-energi di berbagai belahan dunia, terutama AS dan Eropa
3. Peningkatan kebutuhan energi secara signifikan di dua negara, Cina dan India dengan pertumbuhan ekonomi cukup mengesankan dalam beberapa tahun ini.

 

Gejolak energi dunia di sepanjang tahun ini, sepertinya bukanlah akibat ketidakseimbangan sisi supply dan demand, karena kenyataannya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir konsumsi energi dunia meningkat sekitar 10 persen dan masih dapat diimbangi dengan peningkatan produksi energi yang juga pada kisaran 10 persen.

 

Lalu apa penyebab kekisruhan sektor energi tersebut? Kalau boleh menyumbang pendapat, dari sekian analisa yang disuguhkan para pemerhati, mungkin 1 hal utama yang bisa relevan untuk dikemukakan, yaitu faktor ekspektasi. Boleh jadi ekspektasi timbul sebagai respon masing-masing pelaku ekonomi terhadap instabilitas geopolitik kawasan timur tengah yang banyak kalangan, dibaca sebagai ajang perebutan ladang energi dunia. Kekhawatiran mengenai jaminan energy supply secara sustainable yang merupakan faktor dominan/input yang sangat strategis dalam perekonomian, boleh jadi menjadi pemicu hasrat untuk menguasai, memonopoli sumber-sumber energi. Terutama wilayah south-central Eurasia, yang meliputi kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia yang dianggap sebagai pusat kompetisi geopolitik abad ini.

 

Kekhawatiran yang sama juga telah memaksa banyak negara-berkolaborasi dengan korporat melakukan perluasan sumber energi, terutama bio-fuel. Akibat stimulasi kebijakan yang seperti itu, tidaklah terlalu mengherankan jika saat ini banyak kaum tani dibanyak negara, terutama di AS, Eropa dan Cina telah beralih profesi menjadi produsen energi.

 

Kehadiran Cina dan India di zona pertumbuhan ekonomi kuat belakangan ini, membuat diskusi tentang suply and demand untuk komoditi energi menjadi semakin seru dan panas. Lagi-lagi tingkat ekspektasi di sektor ini semakin kompleks dan rumit.

 

Lalu, Indonesia ada di mana?
Mungkin tepat kiranya, jika ada ungkapan ini,” tak usahlah terlalu repot mencari di mana letak Indonesia dalam peta energi dunia”. Mengapa?
Dari sisi supply energi, Indonesia siapalah…. Produksi minyaknya terus melorot dalam beberapa tahun terakhir, 2006 lalu hanya diangka 1 juta barel perhari, bandingkan dengan kebutuhan minyak dunia sebesar 85 juta barel per hari. Dari sisi demand, juga Indonsia siapalah…. Sebab konsumsi energinya masih sangat sedikit, tapi boros…

 

Mungkin bisa berkilah, energi bukan hanya minyak, tetapi juga gas bumi terutama LNG dan batubara. Ekspor kita memang lumayan, terutama di kawasan Asia Pasifik. Tetapi kenyataannya, kemampuan kita untuk ikut berperan secara signifikan dalam ikut serta nimbrung menentukan warna kebijakan/politik energi dunia belumlah kelihatan.

 

Mungkin lebih tepat, jika ada ungkapan seperti ini,” Mending amati sajalah apa yang terjadi di luar sana, lalu optimalkan dalam ngurusi dapur sendiri”. Sebab di sepanjang 2007 ini, sebagaimana kisruh energi dunia, Indonesia juga heboh untuk sektor energinya. Kelihatannya pemerintah masih mengalami kebingungan dalam menentukan arah kebijakan energinya. Lihat saja,
Briket batubara,  sudah tidak ketahuan juntrungannya
Program bahan bakar nabati, apakah sudah ketemu lahannya, apakah harganya secara ekonomi bersaing, bahan baku dari CPO apakah masih mungkin dilanjutkan, jarak pagar apakah sudah dapat diproduksi secara ekonomis, bagaimana dukungan infrastrukturnya.
Program konversi minyak tanah ke elpiji, juga masih jauh dari target.
Subdisidi komoditi energi masihkah terus dipertahankan, padahal sudah jelas tidak tepat sasaran
Kebijakan ekspor energi masihkah jadi idola
Pembangunan PLTN masih semangat untuk dilanjut atau sebatas ujicoba terhadap tingkat penerimaan masyarakat
Dan mungkin masih banyak lagi, entahlah……

 

Ha..ha, di zaman gini kok masih bingung-bingung aja,
Lalu kapan melangkahnya, entahlah….

Posted by cili in 04:46:18 | Permalink | No Comments »