Monday, January 7, 2008

Penundaan Penggunaan RON 90

Dalam beberapa kesempatan, Pemerintah telah memberikan penjelasan mengenai rencana penggunaan RON (research octane number) 90 sebagai salah satu skenario untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang mencapai USD 100 per barel. Rencana Pemerintah tersebut, telah memicu timbulnya konfrontasi di tengah masyarakat baik pro dan kontra. Jenis bahan bakar tersebut untuk tahap awal akan dijual pada lokasi-lokasi SPBU yang terletak di jalan-jalan utama, perumahan elit dan jalan tol di wilayah Jabodetabek, Banten dan Bali, dengan harga jual berkisar Rp 6.750 per liter atau lebih mahal dari harga jual premium subsidi sebesar Rp 4.500 per liter dan di bawah harga jual Pertamax atau RON 92, sebesar Rp 7.750 per liter. Adapun produksi awal, direncanakan sekitar 40.000 kiloliter di kilang kilang UP III Plaju dan Sei Gerong, Palembang, Sumatra Selatan dan nantinya kilang Balongan sebagai kilang utamanya. Beberapa dasar pertimbangan terhadap rencana program tersebut, antara lain: 1)Dari segi ekonomi dan keuangan negara pembatasan pemakaian RON 88, serta penggunaan RON 90 dapat mengurangi beban subsidi BBM dimana dalam RAPBN 2008, alokasi subsidi premium dipatok Rp 7,87 triliun dengan kuota volume 16,95 juta kiloliter. 2)Secara sosial, kebijakan ini bersifat lebih adil serta dapat mengurangi penyalahgunaan pemakaian BBM bersubsidi oleh golongan masyarakat mampu, tetapi menggunakan BBM bersubsidi. 3)Secara teknis proses produksinya mudah karena hampir sama dengan proses produksi RON 88, hanya saja kandungan HOMC nya lebih tinggi, serta memiliki stabilitas oksidasi yang tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzene-nya pada level yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin dibanding RON 88. Selain itu, tidak diperlukan modifikasi khusus bagi mesin kendaraan untuk pemakaian RON 90 4)Dari aspek lingkungan, RON 90 juga tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan, serta pembakarannya lebih sempurna sehingga sangat bersahabat dengan lingkungan Namun demikian, disamping beberapa pertimbangan tersebut di atas yang cenderung bersifat positif, terdapat beberapa implikasi yang mesti diperhatikan secara serius oleh Pemerintah atas rencana tersebut. Beberapa implikasi tersebut, antara lain sebagai berikut: 1)Terbukanya pasar, khususnya bagi pelaku usaha di hilir migas, tidak hanya PT. Pertamina, tetapi juga bagi sektor swasta lainnya seperti Petronas, Shell dengan potensi pasar sekitar 35% pangsa pasar premium. 2)Penyiapan infrastruktur seperti, kilang untuk proses produksi, pembangunan tangki-tangki timbun tambahan hingga mobil pengangkutnya. 3)Perubahan manajemen pelayanan di setiap SPBU yang menjual RON 90 4)Terjadinya peningkatan impor HOMC sebagai bahan campuran dalam memproduksi RON 90, yang selama ini diimpor dari Singapura. Oleh karena itu, beberapa catatan penting terhadap rencana kebijakan Pemerintah tersebut: 1)Program tersebut pada dasarnya sangat baik dan strategis dengan berbagai pertimbangan yang sudah disebutkan di atas. Namun, lagi-lagi program ini sangat mendadak, karena sebelumnya yang direncanakan oleh Pemerintah ada beberapa opsi seperti pembatasan pemakaian premium, kenaikan harga dengan kompensasi subsidi langsung bagi masyarakat tidak mampu. Program dengan tujuan yang sangat baik ini berpotensi mengalami banyak permasalahan pada tataran implementasinya yang diakibatkan oleh kurangnya perencanaan, sebagaimana yang terjadi dalam program briket batubara, biofuel hingga konversi minyak tanah dengan LPG. 2)Target pemberlakuan awal 2008, terkesan sangat dipaksakan, karena terkait dengan penyiapan infrastruktur, peraturan pelaksanaannya, sinergi dengan sektor-sektor lainnya hingga sosialisasi kepada masyarakat. 3)Kebijakan yang paling rasional saat ini adalah dengan pencabutan subsidi BBM, dengan memberikan kompensasi kepada masyarakat tidak mampu, sekalipun sangat tidak populis, tetapi sangat strategis bagi perekonomian nasional di masa yang akan datang. Dengan tingkat harga crude oil seperti sekarang ini, masyarakat pada dasarnya akan lebih realistis, apalagi model subsidi harga BBM selama ini jelas salah sasaran karena justru lebih banyak digunakan oleh kelompok masyarakat mampu/pengguna mobil pribadi. Dengan beberapa catatan tersebut di atas, keputusan Pemerintah untuk menunda pelaksanaan rencana penggunaan RON 90 tersebut merupakan tindakan yang tepat. Sekalipun demikian, upaya diversifikasi penggunaan jenis-jenis BBM tetap merupakan alternatif solusi dalam mengatasi permasalahan energi nasional dan perlu dikaji secara lebih mendalam serta direncanakan secara lebih baik.
Posted by cili at 06:28:43
Comments

Leave a Reply