<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>energy rewiew</title>
	<atom:link href="http://innocent.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://innocent.blog.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 13 May 2008 16:34:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pengelolaan Sektor Ketenagalistrikan Kanada, Bahan Perbandingan (1)</title>
		<link>http://innocent.blog.com/2008/05/13/pengelolaan-sektor-ketenagalistrikan-kanada-bahan-perbandingan-1/</link>
		<comments>http://innocent.blog.com/2008/05/13/pengelolaan-sektor-ketenagalistrikan-kanada-bahan-perbandingan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 16:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cili</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pembagian Kewenangan<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Berdasarkan konstitusi, sektor ketenagalistrikan di Kanada telah menjadi kewenangan masing-masing provinsi.</span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="FI" xml:lang="FI">Kewenangan Pemerintah Federal, di sektor ketenagalistrikan, antara lain:<br /></span>
<ol type="1" style="margin-top: 0in">
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Konstruksi dan operasi jaringan transmisi internasional (international power lines);<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Ekspor tenaga listrik;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Keamanan nuklir;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Perlindungan lingkungan hidup;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Memonitor sisi suplai, demand, infrastruktur serta perdagangan inter regional dan internasional, serta harga;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Menyerap informasi dari masyarakat untuk pengembangan sektor ketenagalistrikan nasional<br /></span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pemerintah provinsi memiliki kewenangan mengatur untuk pembangkitan, transmisi dan distribusi energi listrik di wilayahnya masing-masing, serta impor tenaga listrik. Akibat pelimpahan kewenangan tersebut, struktur industri dan pasar ketenagalistrikan di negara Kanada sangat bervariasi, memiliki kompleksitas yang tinggi dan berbeda untuk setiap provinsi. Dan karena pelimpahan wewenang itu pula, menyebabkan masing-masing Provinsi memiliki UU Ketenagalistrikan tersendiri.<br /></span><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Perkembangan Restrukturisasi<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Awalnya, pengelolaan sektor ketenagalistrikan di negara Kanada dilakukan melalui sistem monopoli oleh Pemerintah Provinsi melalui perusahaan milik masing-masing pemerintah provinsi. Namun seiring dengan perkembangan regional dan kondisi pasar, pada dekade 90-an kemudian dilakukan restrukturisasi, di mana sektor swasta mulai lebih berperan di industri ketenagalistrikan.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Dari 10 provinsi yang ada di negara Kanada, Alberta dan Ontario merupakan dua provinsi yang telah melakukan restrukturisasi sektor ketenagalistrikannya secara lebih cepat dibandingkan provinsi-provinsi lainnya. Provinsi Alberta telah memberlakukan mekanisme pasar penuh untuk sektor ketenagalistrikannya melalui wholesale dan pasar<span>&#160;</span> retail sejak tahun 2001, yang difasilitasi oleh <i>Alberta Electric System Operator (AESO)</i> dan <i>Market Surveillance Administrator (MSA)</i>.<br /></span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Provinsi Ontario, juga telah melakukan open acces untuk transmisi, wholesale dan pasar retail sejak tahun 2002. Namun secara umum masih di bawah pengaturan pemerintah Provinsi, terutama penetapan harga listrik bagi konsumen rumah tangga, pengguna listrik dengan volume yang rendah. Dengan kata lain, di Ontario, masih menggunakan perpaduan antara mekanisme pasar dan monopoli (<i>hybrid competitive-regulated market</i>).<br /></span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Provinsi British Columbia telah melakukan pemisahan antara usaha pembangkitan dan transmisi. Sedangkan provinsi New Brunswick selain pemisahan usaha pembangkitan dan transmisi, juga melakukan pemisahan untuk usaha distribusi. Kedua provinsi tersebut bersama Saskatchewan dan Quebec juga telah memberlakukan wholesale dan reatail acces untuk konsumen industri-industri besar. Provinsi Manitoba hanya memberlakukan wholesale. Secara Umum, selain Alberta dan Ontario pengelolaan sektor ketenagalistrikan masih menerapkan sistem monopoli dan diatur oleh masing-masing pemerintah provinsi.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Ketentuan mengenai harga energi listrik bagi pengguna akhir (<i>end user</i>) juga berbeda-beda untuk masing-masing provinsi. Di Provinsi Alberta, konsumen dapat langsung membeli energi listrik yang harganya ditentukan oleh masing-masing perusahaan berdasarkan mekanisme pasar. Berbeda dengan yang berlaku di Provinsi Ontario, dimana konsumen dapat memilih untuk membeli energi listrik dengan tingkat harga yang ditetapkan pemerintah dengan batas pemakaian yang sudah ditetapkan atau membeli dari pihak perusahaan retailer berdasarkan harga pasar. Sedangkan untuk provinsi-provinsi lainnya, secara umum menggunakan harga yang ditetapkan oleh Pemerintah.<br /></span><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Kondisi Suplai Tenaga Listrik<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Untuk jenis pembangkit, masing-masing provinsi juga bervariasi. Untuk provinsi British Columbia, Manitoba dan Quebec mayoritas menggunakan pembangkit listrik tenaga air. Provinsi Ontario lebih banyak menggunakan jenis pembangkit nuklir, hydro, gas dan sedikit batubara. Sedangkan jenis pembangkit batubara lebih banyak digunakan di Alberta, Saskatchewan, Nova Scotia dan New Brunswick.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Hingga saat ini, terdapat 18 perusahaan pembangkit tenaga listrik dengan kapasitas cukup besar. Antara lain, <i>Ontario Power Generation (OPG), ATCO Power, BC Hydro, Manitoba Hydro, SaskPower, NB Power, NovaScotia Power</i> dan <i>Hydro Quebec</i>. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki market share antara 70 hingga 90 persen di masing-masing provinsi, tempat mereka beroperasi.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Untuk jaringan transmisi, negara Kanada merupakan salah satu negara di dunia dengan sistem interkoneksi yang cukup rumit. Saat ini, terdapat sekitar 35 jaringan interkoneksi utama di level provinsi dan lebih dari 100 jaringan transmisi internasional. Di beberapa provinsi sudah dilakukan privatisasi untuk transmisi dengan memberlakukan <i>Open Acces Transmission Tariff (OATT)</i>, sementara sebagian lainnya masih monopoli perusahaan pemerintah.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Sekalipun memiliki posisi sebagai net eksportir untuk komoditas tenaga listrik bagi USA, Kanada masih tetap membutuhkan penambahan pembangkit listrik, terutama jenis pembangkit yang lebih ramah lingkungan. Demikian pula pengembangan jaringan transmisi, khususnya transmisi internasional yang menghubungkan Kanada_Amerika Serikat dan Meksiko (Bagian Utara Amerika). Penambahan pembangkit dan perluasan jaringan transmisi tersebut sangat penting untuk peningkatan benefit bagi perekonomian Kanada, mengingat hingga saat ini Kanada masih masih memiliki neraca perdagangan yang positif untuk tenaga listrik dengan mitra utamanya USA.<br /></span><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pengelolaan Sisi Demand<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pengelolaan sisi demand dimaksudkan untuk melakukan efisiensi penggunaan tenaga listrik melalui kesadaran konsumen. Beberapa program yang sudah dilakukan antara lain, melalui <i>Demand Side Management (DSM)</i> dan <i>Demand Response (DR)</i>. Melalui program tersebut, dilakukan pendidikan bagi konsumen, promosi efisiensi energi, hingga audit energi.<br /></span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">DSM lebih ditujukan untuk pelanggan rumah tangga, sedangkan DR ditujukan bagi penggunana listrik skala besar, misalnya dengan melakukan switch penggunaan energi listrik dari waktu <i>on-peak</i> ke <i>off peak</i>. Bagi konsumen yang melakukan penghematan akan mendapatkan potongan biaya pembayaran tagihan listrik, sedangkan bagi konsumen yang melakukan pemborosan akan mendapatkan <i>penalty</i>, melalui tambahan beban biaya tagihan listrik.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Di Kanada, saat ini juga sedang diperkenalkan penggunaan smart metering, untuk digitalisasi sistem pengukuran penggunaan tenaga listrik konsumen.</span>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pembagian Kewenangan<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Berdasarkan konstitusi, sektor ketenagalistrikan di Kanada telah menjadi kewenangan masing-masing provinsi.</span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="FI" xml:lang="FI">Kewenangan Pemerintah Federal, di sektor ketenagalistrikan, antara lain:<br /></span></p>
<ol type="1" style="margin-top: 0in">
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Konstruksi dan operasi jaringan transmisi internasional (international power lines);<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Ekspor tenaga listrik;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Keamanan nuklir;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Perlindungan lingkungan hidup;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Memonitor sisi suplai, demand, infrastruktur serta perdagangan inter regional dan internasional, serta harga;<br /></span></li>
<li style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 20pt; text-align: justify; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Menyerap informasi dari masyarakat untuk pengembangan sektor ketenagalistrikan nasional<br /></span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">&#160;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pemerintah provinsi memiliki kewenangan mengatur untuk pembangkitan, transmisi dan distribusi energi listrik di wilayahnya masing-masing, serta impor tenaga listrik. Akibat pelimpahan kewenangan tersebut, struktur industri dan pasar ketenagalistrikan di negara Kanada sangat bervariasi, memiliki kompleksitas yang tinggi dan berbeda untuk setiap provinsi. Dan karena pelimpahan wewenang itu pula, menyebabkan masing-masing Provinsi memiliki UU Ketenagalistrikan tersendiri.<br /></span><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Perkembangan Restrukturisasi<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Awalnya, pengelolaan sektor ketenagalistrikan di negara Kanada dilakukan melalui sistem monopoli oleh Pemerintah Provinsi melalui perusahaan milik masing-masing pemerintah provinsi. Namun seiring dengan perkembangan regional dan kondisi pasar, pada dekade 90-an kemudian dilakukan restrukturisasi, di mana sektor swasta mulai lebih berperan di industri ketenagalistrikan.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Dari 10 provinsi yang ada di negara Kanada, Alberta dan Ontario merupakan dua provinsi yang telah melakukan restrukturisasi sektor ketenagalistrikannya secara lebih cepat dibandingkan provinsi-provinsi lainnya. Provinsi Alberta telah memberlakukan mekanisme pasar penuh untuk sektor ketenagalistrikannya melalui wholesale dan pasar<span>&#160;</span> retail sejak tahun 2001, yang difasilitasi oleh <i>Alberta Electric System Operator (AESO)</i> dan <i>Market Surveillance Administrator (MSA)</i>.<br /></span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Provinsi Ontario, juga telah melakukan open acces untuk transmisi, wholesale dan pasar retail sejak tahun 2002. Namun secara umum masih di bawah pengaturan pemerintah Provinsi, terutama penetapan harga listrik bagi konsumen rumah tangga, pengguna listrik dengan volume yang rendah. Dengan kata lain, di Ontario, masih menggunakan perpaduan antara mekanisme pasar dan monopoli (<i>hybrid competitive-regulated market</i>).<br /></span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Provinsi British Columbia telah melakukan pemisahan antara usaha pembangkitan dan transmisi. Sedangkan provinsi New Brunswick selain pemisahan usaha pembangkitan dan transmisi, juga melakukan pemisahan untuk usaha distribusi. Kedua provinsi tersebut bersama Saskatchewan dan Quebec juga telah memberlakukan wholesale dan reatail acces untuk konsumen industri-industri besar. Provinsi Manitoba hanya memberlakukan wholesale. Secara Umum, selain Alberta dan Ontario pengelolaan sektor ketenagalistrikan masih menerapkan sistem monopoli dan diatur oleh masing-masing pemerintah provinsi.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Ketentuan mengenai harga energi listrik bagi pengguna akhir (<i>end user</i>) juga berbeda-beda untuk masing-masing provinsi. Di Provinsi Alberta, konsumen dapat langsung membeli energi listrik yang harganya ditentukan oleh masing-masing perusahaan berdasarkan mekanisme pasar. Berbeda dengan yang berlaku di Provinsi Ontario, dimana konsumen dapat memilih untuk membeli energi listrik dengan tingkat harga yang ditetapkan pemerintah dengan batas pemakaian yang sudah ditetapkan atau membeli dari pihak perusahaan retailer berdasarkan harga pasar. Sedangkan untuk provinsi-provinsi lainnya, secara umum menggunakan harga yang ditetapkan oleh Pemerintah.<br /></span><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Kondisi Suplai Tenaga Listrik<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Untuk jenis pembangkit, masing-masing provinsi juga bervariasi. Untuk provinsi British Columbia, Manitoba dan Quebec mayoritas menggunakan pembangkit listrik tenaga air. Provinsi Ontario lebih banyak menggunakan jenis pembangkit nuklir, hydro, gas dan sedikit batubara. Sedangkan jenis pembangkit batubara lebih banyak digunakan di Alberta, Saskatchewan, Nova Scotia dan New Brunswick.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Hingga saat ini, terdapat 18 perusahaan pembangkit tenaga listrik dengan kapasitas cukup besar. Antara lain, <i>Ontario Power Generation (OPG), ATCO Power, BC Hydro, Manitoba Hydro, SaskPower, NB Power, NovaScotia Power</i> dan <i>Hydro Quebec</i>. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki market share antara 70 hingga 90 persen di masing-masing provinsi, tempat mereka beroperasi.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Untuk jaringan transmisi, negara Kanada merupakan salah satu negara di dunia dengan sistem interkoneksi yang cukup rumit. Saat ini, terdapat sekitar 35 jaringan interkoneksi utama di level provinsi dan lebih dari 100 jaringan transmisi internasional. Di beberapa provinsi sudah dilakukan privatisasi untuk transmisi dengan memberlakukan <i>Open Acces Transmission Tariff (OATT)</i>, sementara sebagian lainnya masih monopoli perusahaan pemerintah.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Sekalipun memiliki posisi sebagai net eksportir untuk komoditas tenaga listrik bagi USA, Kanada masih tetap membutuhkan penambahan pembangkit listrik, terutama jenis pembangkit yang lebih ramah lingkungan. Demikian pula pengembangan jaringan transmisi, khususnya transmisi internasional yang menghubungkan Kanada_Amerika Serikat dan Meksiko (Bagian Utara Amerika). Penambahan pembangkit dan perluasan jaringan transmisi tersebut sangat penting untuk peningkatan benefit bagi perekonomian Kanada, mengingat hingga saat ini Kanada masih masih memiliki neraca perdagangan yang positif untuk tenaga listrik dengan mitra utamanya USA.<br /></span><b><i><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pengelolaan Sisi Demand<br /></span></i></b><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Pengelolaan sisi demand dimaksudkan untuk melakukan efisiensi penggunaan tenaga listrik melalui kesadaran konsumen. Beberapa program yang sudah dilakukan antara lain, melalui <i>Demand Side Management (DSM)</i> dan <i>Demand Response (DR)</i>. Melalui program tersebut, dilakukan pendidikan bagi konsumen, promosi efisiensi energi, hingga audit energi.<br /></span> <span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">DSM lebih ditujukan untuk pelanggan rumah tangga, sedangkan DR ditujukan bagi penggunana listrik skala besar, misalnya dengan melakukan switch penggunaan energi listrik dari waktu <i>on-peak</i> ke <i>off peak</i>. Bagi konsumen yang melakukan penghematan akan mendapatkan potongan biaya pembayaran tagihan listrik, sedangkan bagi konsumen yang melakukan pemborosan akan mendapatkan <i>penalty</i>, melalui tambahan beban biaya tagihan listrik.<br /></span><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Di Kanada, saat ini juga sedang diperkenalkan penggunaan smart metering, untuk digitalisasi sistem pengukuran penggunaan tenaga listrik konsumen.</span>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://innocent.blog.com/2008/05/13/pengelolaan-sektor-ketenagalistrikan-kanada-bahan-perbandingan-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penundaan Penggunaan RON 90</title>
		<link>http://innocent.blog.com/2008/01/07/penundaan-penggunaan-ron-90/</link>
		<comments>http://innocent.blog.com/2008/01/07/penundaan-penggunaan-ron-90/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 13:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cili</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa kesempatan, Pemerintah telah memberikan penjelasan mengenai rencana penggunaan RON (research octane number) 90 sebagai salah satu skenario untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang mencapai USD 100 per barel. Rencana Pemerintah tersebut, telah memicu timbulnya konfrontasi di tengah masyarakat baik pro dan kontra. Jenis bahan bakar tersebut untuk tahap awal akan dijual pada lokasi-lokasi SPBU yang terletak di jalan-jalan utama, perumahan elit dan jalan tol di wilayah Jabodetabek, Banten dan Bali, dengan harga jual berkisar Rp 6.750 per liter atau lebih mahal dari harga jual premium subsidi sebesar Rp 4.500 per liter dan di bawah harga jual Pertamax atau RON 92, sebesar Rp 7.750 per liter. Adapun produksi awal, direncanakan sekitar 40.000 kiloliter di kilang kilang UP III Plaju dan Sei Gerong, Palembang, Sumatra Selatan dan nantinya kilang Balongan sebagai kilang utamanya. Beberapa dasar pertimbangan terhadap rencana program tersebut, antara lain: 1)Dari segi ekonomi dan keuangan negara pembatasan pemakaian RON 88, serta penggunaan RON 90 dapat mengurangi beban subsidi BBM dimana dalam RAPBN 2008, alokasi subsidi premium dipatok Rp 7,87 triliun dengan kuota volume 16,95 juta kiloliter. 2)Secara sosial, kebijakan ini bersifat lebih adil serta dapat mengurangi penyalahgunaan pemakaian BBM bersubsidi oleh golongan masyarakat mampu, tetapi menggunakan BBM bersubsidi. 3)Secara teknis proses produksinya mudah karena hampir sama dengan proses produksi RON 88, hanya saja kandungan HOMC nya lebih tinggi, serta memiliki stabilitas oksidasi yang tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzene-nya pada level yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin dibanding RON 88. Selain itu, tidak diperlukan modifikasi khusus bagi mesin kendaraan untuk pemakaian RON 90 4)Dari aspek lingkungan, RON 90 juga tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan, serta pembakarannya lebih sempurna sehingga sangat bersahabat dengan lingkungan Namun demikian, disamping beberapa pertimbangan tersebut di atas yang cenderung bersifat positif, terdapat beberapa implikasi yang mesti diperhatikan secara serius oleh Pemerintah atas rencana tersebut. Beberapa implikasi tersebut, antara lain sebagai berikut: 1)Terbukanya pasar, khususnya bagi pelaku usaha di hilir migas, tidak hanya PT. Pertamina, tetapi juga bagi sektor swasta lainnya seperti Petronas, Shell dengan potensi pasar sekitar 35% pangsa pasar premium. 2)Penyiapan infrastruktur seperti, kilang untuk proses produksi, pembangunan tangki-tangki timbun tambahan hingga mobil pengangkutnya. 3)Perubahan manajemen pelayanan di setiap SPBU yang menjual RON 90 4)Terjadinya peningkatan impor HOMC sebagai bahan campuran dalam memproduksi RON 90, yang selama ini diimpor dari Singapura. Oleh karena itu, beberapa catatan penting terhadap rencana kebijakan Pemerintah tersebut: 1)Program tersebut pada dasarnya sangat baik dan strategis dengan berbagai pertimbangan yang sudah disebutkan di atas. Namun, lagi-lagi program ini sangat mendadak, karena sebelumnya yang direncanakan oleh Pemerintah ada beberapa opsi seperti pembatasan pemakaian premium, kenaikan harga dengan kompensasi subsidi langsung bagi masyarakat tidak mampu. Program dengan tujuan yang sangat baik ini berpotensi mengalami banyak permasalahan pada tataran implementasinya yang diakibatkan oleh kurangnya perencanaan, sebagaimana yang terjadi dalam program briket batubara, biofuel hingga konversi minyak tanah dengan LPG. 2)Target pemberlakuan awal 2008, terkesan sangat dipaksakan, karena terkait dengan penyiapan infrastruktur, peraturan pelaksanaannya, sinergi dengan sektor-sektor lainnya hingga sosialisasi kepada masyarakat. 3)Kebijakan yang paling rasional saat ini adalah dengan pencabutan subsidi BBM, dengan memberikan kompensasi kepada masyarakat tidak mampu, sekalipun sangat tidak populis, tetapi sangat strategis bagi perekonomian nasional di masa yang akan datang. Dengan tingkat harga crude oil seperti sekarang ini, masyarakat pada dasarnya akan lebih realistis, apalagi model subsidi harga BBM selama ini jelas salah sasaran karena justru lebih banyak digunakan oleh kelompok masyarakat mampu/pengguna mobil pribadi. Dengan beberapa catatan tersebut di atas, keputusan Pemerintah untuk menunda pelaksanaan rencana penggunaan RON 90 tersebut merupakan tindakan yang tepat. Sekalipun demikian, upaya diversifikasi penggunaan jenis-jenis BBM tetap merupakan alternatif solusi dalam mengatasi permasalahan energi nasional dan perlu dikaji secara lebih mendalam serta direncanakan secara lebih baik.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Dalam beberapa kesempatan, Pemerintah telah memberikan penjelasan mengenai rencana penggunaan RON (research octane number) 90 sebagai salah satu skenario untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang mencapai USD 100 per barel. Rencana Pemerintah tersebut, telah memicu timbulnya konfrontasi di tengah masyarakat baik pro dan kontra. Jenis bahan bakar tersebut untuk tahap awal akan dijual pada lokasi-lokasi SPBU yang terletak di jalan-jalan utama, perumahan elit dan jalan tol di wilayah Jabodetabek, Banten dan Bali, dengan harga jual berkisar Rp 6.750 per liter atau lebih mahal dari harga jual premium subsidi sebesar Rp 4.500 per liter dan di bawah harga jual Pertamax atau RON 92, sebesar Rp 7.750 per liter. Adapun produksi awal, direncanakan sekitar 40.000 kiloliter di kilang kilang UP III Plaju dan Sei Gerong, Palembang, Sumatra Selatan dan nantinya kilang Balongan sebagai kilang utamanya. Beberapa dasar pertimbangan terhadap rencana program tersebut, antara lain: 1)Dari segi ekonomi dan keuangan negara pembatasan pemakaian RON 88, serta penggunaan RON 90 dapat mengurangi beban subsidi BBM dimana dalam RAPBN 2008, alokasi subsidi premium dipatok Rp 7,87 triliun dengan kuota volume 16,95 juta kiloliter. 2)Secara sosial, kebijakan ini bersifat lebih adil serta dapat mengurangi penyalahgunaan pemakaian BBM bersubsidi oleh golongan masyarakat mampu, tetapi menggunakan BBM bersubsidi. 3)Secara teknis proses produksinya mudah karena hampir sama dengan proses produksi RON 88, hanya saja kandungan HOMC nya lebih tinggi, serta memiliki stabilitas oksidasi yang tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzene-nya pada level yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin dibanding RON 88. Selain itu, tidak diperlukan modifikasi khusus bagi mesin kendaraan untuk pemakaian RON 90 4)Dari aspek lingkungan, RON 90 juga tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan, serta pembakarannya lebih sempurna sehingga sangat bersahabat dengan lingkungan Namun demikian, disamping beberapa pertimbangan tersebut di atas yang cenderung bersifat positif, terdapat beberapa implikasi yang mesti diperhatikan secara serius oleh Pemerintah atas rencana tersebut. Beberapa implikasi tersebut, antara lain sebagai berikut: 1)Terbukanya pasar, khususnya bagi pelaku usaha di hilir migas, tidak hanya PT. Pertamina, tetapi juga bagi sektor swasta lainnya seperti Petronas, Shell dengan potensi pasar sekitar 35% pangsa pasar premium. 2)Penyiapan infrastruktur seperti, kilang untuk proses produksi, pembangunan tangki-tangki timbun tambahan hingga mobil pengangkutnya. 3)Perubahan manajemen pelayanan di setiap SPBU yang menjual RON 90 4)Terjadinya peningkatan impor HOMC sebagai bahan campuran dalam memproduksi RON 90, yang selama ini diimpor dari Singapura. Oleh karena itu, beberapa catatan penting terhadap rencana kebijakan Pemerintah tersebut: 1)Program tersebut pada dasarnya sangat baik dan strategis dengan berbagai pertimbangan yang sudah disebutkan di atas. Namun, lagi-lagi program ini sangat mendadak, karena sebelumnya yang direncanakan oleh Pemerintah ada beberapa opsi seperti pembatasan pemakaian premium, kenaikan harga dengan kompensasi subsidi langsung bagi masyarakat tidak mampu. Program dengan tujuan yang sangat baik ini berpotensi mengalami banyak permasalahan pada tataran implementasinya yang diakibatkan oleh kurangnya perencanaan, sebagaimana yang terjadi dalam program briket batubara, biofuel hingga konversi minyak tanah dengan LPG. 2)Target pemberlakuan awal 2008, terkesan sangat dipaksakan, karena terkait dengan penyiapan infrastruktur, peraturan pelaksanaannya, sinergi dengan sektor-sektor lainnya hingga sosialisasi kepada masyarakat. 3)Kebijakan yang paling rasional saat ini adalah dengan pencabutan subsidi BBM, dengan memberikan kompensasi kepada masyarakat tidak mampu, sekalipun sangat tidak populis, tetapi sangat strategis bagi perekonomian nasional di masa yang akan datang. Dengan tingkat harga crude oil seperti sekarang ini, masyarakat pada dasarnya akan lebih realistis, apalagi model subsidi harga BBM selama ini jelas salah sasaran karena justru lebih banyak digunakan oleh kelompok masyarakat mampu/pengguna mobil pribadi. Dengan beberapa catatan tersebut di atas, keputusan Pemerintah untuk menunda pelaksanaan rencana penggunaan RON 90 tersebut merupakan tindakan yang tepat. Sekalipun demikian, upaya diversifikasi penggunaan jenis-jenis BBM tetap merupakan alternatif solusi dalam mengatasi permasalahan energi nasional dan perlu dikaji secara lebih mendalam serta direncanakan secara lebih baik.
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://innocent.blog.com/2008/01/07/penundaan-penggunaan-ron-90/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan Minyak</title>
		<link>http://innocent.blog.com/2007/11/20/kejutan-minyak/</link>
		<comments>http://innocent.blog.com/2007/11/20/kejutan-minyak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 15:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cili</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Harga minyak mentah dalam kurun waktu 1 bulan terakhir sudah mencetak rekor baru dalam sejarah perminyakan dunia, yaitu hampir mencapai angka USD 100 per barrel. Lonjakan harga tersebut, terutama akibat peningkatan demand sebagai konsekuensi perekonomian global yang tumbuh cepat, terutama oleh China dan India , termasuk AS yang secara konvensional merupakan konsumen energi terbesar. Penyebab lainnya adalah krisis geopolitik, terutama di Kawasan Timur Tengah yang hingga saat belum menemukan formula solusi yang tepat, serta adanya sentimen pasar yang menyebabkan harga minyak melambung secara tidak proporsional.<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Kondisi tersebut sangat berdampak bagi perekonomian Indonesia , terutama untuk beberapa hal berikut:<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(1)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Melonjaknya subsidi Energi, mencapai Rp 130-an juta, yang terdiri dari subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sekitar Rp 90 triliun dari semula sekitar Rp 50 triliun dan subsidi Tarif Dasar Listrik (TDL) menjadi sekitar Rp 40 triliun dari semula<span>&#160;</span> sekitar Rp 32 triliun;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(2)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Lonjakan inflasi;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(3)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">pengurasan nilai asset;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(4)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">penurunan daya beli;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><span>(5)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Penurunan sisi permintaan; dan<br /></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><span>(6)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">peningkatan biaya produksi dalam ekonomi nasional.<br /></span>
<p><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="FI" xml:lang="FI">Efek lanjutan dari berbagai persoalan tersebut adalah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Sekalipun, Pemerintah dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan bahwa APBN masih aman karena terjadinya keseimbangan pembayaran yang didukung oleh peningkatan relisasi penerimaan migas.<br /></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Selain itu, Pemerintah juga telah menyiapkan beberapa scenario sebagai respon terhadap lonjakan harga minyak tersebut, antara lain: <i>Pertama</i>, pengalokasian dana Rp 7 triliun sebagai pos cadangan umum yang hanya akan digunakan jika produksi minyak terealisasi di bawah target APBN 2008, yaitu sebesar 1,034 juta barrel per hari; <i>Kedua</i>, meningkatkan kontribusi badan usaha milik negara (BUMN) yang diperkirakan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak dan gas, yakni Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara, berupa kenaikan setoran dividen; <i>Ketiga</i>, memaksimalkan pungutan ekspor dari komoditas yang mengalami kenaikan nilai ekspornya, terutama minyak sawit mentah (CPO), karet, dan produk tambang.<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Namun demikian, tetap saja tidak akan semudah yang direncanakan. Sebab, di tengah lonjakan harga crude oil saat ini, produksi minyak bumi nasional tetap saja sulit untuk ditingkatkan. Hingga kwartal III tahun ini, level produksinya baru pada kisaran 890.000 barel perhari, masih jauh di bawah target produksi nasional sebesar <span>&#160;</span>1,034 juta barrel per hari.</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Di sisi lain, konsumsi BBM di dalam negeri tetap stabil pada kisaran 1,3 juta barel per hari. Artinya, supply energi dalam negeri semakin tergantung kepada minyak impor yang pada akhirnya akan semakin menyulitkan keuangan negara dan akan selalu memicu instabilitas perekonomian nasional.<br /></span> <i><span style="font-size: 11pt; color: red; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Pertanyaan mendasarnya adalah “Apakah Kejutan-kejutan harga minyak yang bergerak secara leverage dan semakin unpredictable secara berulang dalam kurun waktu terakhir ini, belum<span>&#160;</span> juga menyadarkan kita semua untuk segera melakukan pembenahan manajemen energi nasional???”<br /></span></i>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Harga minyak mentah dalam kurun waktu 1 bulan terakhir sudah mencetak rekor baru dalam sejarah perminyakan dunia, yaitu hampir mencapai angka USD 100 per barrel. Lonjakan harga tersebut, terutama akibat peningkatan demand sebagai konsekuensi perekonomian global yang tumbuh cepat, terutama oleh China dan India , termasuk AS yang secara konvensional merupakan konsumen energi terbesar. Penyebab lainnya adalah krisis geopolitik, terutama di Kawasan Timur Tengah yang hingga saat belum menemukan formula solusi yang tepat, serta adanya sentimen pasar yang menyebabkan harga minyak melambung secara tidak proporsional.<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Kondisi tersebut sangat berdampak bagi perekonomian Indonesia , terutama untuk beberapa hal berikut:<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(1)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Melonjaknya subsidi Energi, mencapai Rp 130-an juta, yang terdiri dari subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sekitar Rp 90 triliun dari semula sekitar Rp 50 triliun dan subsidi Tarif Dasar Listrik (TDL) menjadi sekitar Rp 40 triliun dari semula<span>&#160;</span> sekitar Rp 32 triliun;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(2)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Lonjakan inflasi;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(3)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">pengurasan nilai asset;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial"><span>(4)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">penurunan daya beli;<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><span>(5)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Penurunan sisi permintaan; dan<br /></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><span>(6)<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></span></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">peningkatan biaya produksi dalam ekonomi nasional.<br /></span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">&#160;</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="FI" xml:lang="FI">Efek lanjutan dari berbagai persoalan tersebut adalah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Sekalipun, Pemerintah dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan bahwa APBN masih aman karena terjadinya keseimbangan pembayaran yang didukung oleh peningkatan relisasi penerimaan migas.<br /></span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Selain itu, Pemerintah juga telah menyiapkan beberapa scenario sebagai respon terhadap lonjakan harga minyak tersebut, antara lain: <i>Pertama</i>, pengalokasian dana Rp 7 triliun sebagai pos cadangan umum yang hanya akan digunakan jika produksi minyak terealisasi di bawah target APBN 2008, yaitu sebesar 1,034 juta barrel per hari; <i>Kedua</i>, meningkatkan kontribusi badan usaha milik negara (BUMN) yang diperkirakan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak dan gas, yakni Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara, berupa kenaikan setoran dividen; <i>Ketiga</i>, memaksimalkan pungutan ekspor dari komoditas yang mengalami kenaikan nilai ekspornya, terutama minyak sawit mentah (CPO), karet, dan produk tambang.<br /></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial">Namun demikian, tetap saja tidak akan semudah yang direncanakan. Sebab, di tengah lonjakan harga crude oil saat ini, produksi minyak bumi nasional tetap saja sulit untuk ditingkatkan. Hingga kwartal III tahun ini, level produksinya baru pada kisaran 890.000 barel perhari, masih jauh di bawah target produksi nasional sebesar <span>&#160;</span>1,034 juta barrel per hari.</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Di sisi lain, konsumsi BBM di dalam negeri tetap stabil pada kisaran 1,3 juta barel per hari. Artinya, supply energi dalam negeri semakin tergantung kepada minyak impor yang pada akhirnya akan semakin menyulitkan keuangan negara dan akan selalu memicu instabilitas perekonomian nasional.<br /></span> <i><span style="font-size: 11pt; color: red; line-height: 150%; font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Pertanyaan mendasarnya adalah “Apakah Kejutan-kejutan harga minyak yang bergerak secara leverage dan semakin unpredictable secara berulang dalam kurun waktu terakhir ini, belum<span>&#160;</span> juga menyadarkan kita semua untuk segera melakukan pembenahan manajemen energi nasional???”<br /></span></i>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://innocent.blog.com/2007/11/20/kejutan-minyak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisruh Energi di Tahun 2007</title>
		<link>http://innocent.blog.com/2007/11/02/kisruh-energi-di-tahun-2007/</link>
		<comments>http://innocent.blog.com/2007/11/02/kisruh-energi-di-tahun-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 11:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cili</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Beberapa issue sentral yang cukup menonjol di sektor energi dunia<span>&#160;</span> di tahun 2007, antara lain:<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">1. Terjadinya dua kali Lonjakan harga minyak bumi di awal-tengah tahun (mencapai kisaran USD 70-an) dan saat ini (sudah menghampiri angka USD 100).<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">2. Peningkatan produksi<span>&#160;</span> dan perluasan demand bio-energi di berbagai belahan dunia, terutama AS dan Eropa<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">3. Peningkatan kebutuhan energi secara signifikan di dua negara, Cina dan India dengan pertumbuhan ekonomi cukup mengesankan dalam beberapa tahun ini.<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Gejolak energi dunia di sepanjang tahun ini, sepertinya bukanlah akibat ketidakseimbangan sisi supply dan demand, karena kenyataannya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir konsumsi energi dunia meningkat sekitar 10 persen dan masih dapat diimbangi dengan peningkatan produksi energi yang juga pada kisaran 10 persen.<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Lalu apa penyebab kekisruhan sektor energi tersebut? Kalau boleh menyumbang pendapat, dari sekian analisa yang disuguhkan para pemerhati, mungkin 1 hal utama yang bisa relevan untuk dikemukakan, yaitu faktor ekspektasi. Boleh jadi ekspektasi timbul sebagai respon masing-masing pelaku ekonomi terhadap instabilitas geopolitik kawasan timur tengah yang banyak kalangan, dibaca sebagai ajang perebutan ladang energi dunia. Kekhawatiran mengenai jaminan <b><span style="color: red">energy</span></b> supply secara sustainable yang merupakan faktor dominan/input yang sangat strategis dalam perekonomian, boleh jadi menjadi pemicu hasrat untuk menguasai, memonopoli sumber-sumber energi. Terutama wilayah south-central Eurasia, yang meliputi kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia yang dianggap sebagai pusat kompetisi geopolitik abad ini.<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Kekhawatiran yang sama juga telah memaksa banyak negara-berkolaborasi dengan korporat melakukan perluasan sumber energi, terutama bio-fuel. Akibat stimulasi kebijakan yang seperti itu, tidaklah terlalu mengherankan jika saat ini banyak kaum tani dibanyak negara, terutama di AS, Eropa dan Cina telah beralih profesi menjadi produsen energi.<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Kehadiran Cina dan India di zona pertumbuhan ekonomi kuat belakangan ini, membuat diskusi tentang suply and demand untuk komoditi energi menjadi semakin seru dan panas. Lagi-lagi tingkat ekspektasi di sektor ini semakin kompleks dan rumit.<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Lalu, Indonesia ada di mana?<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Mungkin tepat kiranya, jika ada ungkapan ini,” tak usahlah terlalu repot mencari di mana letak Indonesia dalam peta energi dunia”. Mengapa?<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Dari sisi supply energi, Indonesia siapalah.... Produksi minyaknya terus melorot dalam beberapa tahun terakhir, 2006 lalu hanya diangka 1 juta barel perhari, bandingkan dengan kebutuhan minyak dunia sebesar 85 juta barel per hari. Dari sisi demand, juga Indonsia siapalah.... Sebab konsumsi energinya masih sangat sedikit, tapi boros...<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Mungkin bisa berkilah, energi bukan hanya minyak, tetapi juga gas bumi terutama LNG dan batubara. Ekspor kita memang lumayan, terutama di kawasan Asia Pasifik. Tetapi kenyataannya, kemampuan kita untuk ikut berperan secara signifikan dalam ikut serta nimbrung menentukan warna kebijakan/politik energi dunia belumlah kelihatan.<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<font size="2"><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Mungkin lebih tepat, jika ada ungkapan seperti ini,” Mending amati sajalah apa yang terjadi di luar sana, lalu optimalkan dalam ngurusi dapur sendiri”. Sebab di sepanjang 2007 ini, sebagaimana kisruh energi dunia, Indonesia juga heboh untuk sektor energinya.</span> <span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Kelihatannya pemerintah masih mengalami kebingungan dalam menentukan arah kebijakan energinya. Lihat saja,<br /></span></font><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Briket batubara, <span>&#160;</span>sudah tidak ketahuan juntrungannya<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Program bahan bakar nabati, apakah sudah ketemu lahannya, apakah harganya secara ekonomi bersaing, bahan baku dari CPO apakah masih mungkin dilanjutkan, jarak pagar apakah sudah dapat diproduksi secara ekonomis, bagaimana dukungan infrastrukturnya.<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Program konversi minyak tanah ke elpiji, juga masih jauh dari target.<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Subdisidi komoditi energi masihkah terus dipertahankan, padahal sudah jelas tidak tepat sasaran<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Kebijakan ekspor energi masihkah jadi idola<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Pembangunan PLTN masih semangat untuk dilanjut atau sebatas ujicoba terhadap tingkat penerimaan masyarakat<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Dan mungkin masih banyak lagi, entahlah......<br /></font></span>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Ha..ha, di zaman gini kok masih bingung-bingung aja,<br /></font></span> <span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Lalu kapan melangkahnya, entahlah....<br /></font></span>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Beberapa issue sentral yang cukup menonjol di sektor energi dunia<span>&#160;</span> di tahun 2007, antara lain:<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">1. Terjadinya dua kali Lonjakan harga minyak bumi di awal-tengah tahun (mencapai kisaran USD 70-an) dan saat ini (sudah menghampiri angka USD 100).<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">2. Peningkatan produksi<span>&#160;</span> dan perluasan demand bio-energi di berbagai belahan dunia, terutama AS dan Eropa<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">3. Peningkatan kebutuhan energi secara signifikan di dua negara, Cina dan India dengan pertumbuhan ekonomi cukup mengesankan dalam beberapa tahun ini.<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Gejolak energi dunia di sepanjang tahun ini, sepertinya bukanlah akibat ketidakseimbangan sisi supply dan demand, karena kenyataannya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir konsumsi energi dunia meningkat sekitar 10 persen dan masih dapat diimbangi dengan peningkatan produksi energi yang juga pada kisaran 10 persen.<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Lalu apa penyebab kekisruhan sektor energi tersebut? Kalau boleh menyumbang pendapat, dari sekian analisa yang disuguhkan para pemerhati, mungkin 1 hal utama yang bisa relevan untuk dikemukakan, yaitu faktor ekspektasi. Boleh jadi ekspektasi timbul sebagai respon masing-masing pelaku ekonomi terhadap instabilitas geopolitik kawasan timur tengah yang banyak kalangan, dibaca sebagai ajang perebutan ladang energi dunia. Kekhawatiran mengenai jaminan <b><span style="color: red">energy</span></b> supply secara sustainable yang merupakan faktor dominan/input yang sangat strategis dalam perekonomian, boleh jadi menjadi pemicu hasrat untuk menguasai, memonopoli sumber-sumber energi. Terutama wilayah south-central Eurasia, yang meliputi kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia yang dianggap sebagai pusat kompetisi geopolitik abad ini.<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Kekhawatiran yang sama juga telah memaksa banyak negara-berkolaborasi dengan korporat melakukan perluasan sumber energi, terutama bio-fuel. Akibat stimulasi kebijakan yang seperti itu, tidaklah terlalu mengherankan jika saat ini banyak kaum tani dibanyak negara, terutama di AS, Eropa dan Cina telah beralih profesi menjadi produsen energi.<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Kehadiran Cina dan India di zona pertumbuhan ekonomi kuat belakangan ini, membuat diskusi tentang suply and demand untuk komoditi energi menjadi semakin seru dan panas. Lagi-lagi tingkat ekspektasi di sektor ini semakin kompleks dan rumit.<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Lalu, Indonesia ada di mana?<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Mungkin tepat kiranya, jika ada ungkapan ini,” tak usahlah terlalu repot mencari di mana letak Indonesia dalam peta energi dunia”. Mengapa?<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Dari sisi supply energi, Indonesia siapalah&#8230;. Produksi minyaknya terus melorot dalam beberapa tahun terakhir, 2006 lalu hanya diangka 1 juta barel perhari, bandingkan dengan kebutuhan minyak dunia sebesar 85 juta barel per hari. Dari sisi demand, juga Indonsia siapalah&#8230;. Sebab konsumsi energinya masih sangat sedikit, tapi boros&#8230;<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">Mungkin bisa berkilah, energi bukan hanya minyak, tetapi juga gas bumi terutama LNG dan batubara. Ekspor kita memang lumayan, terutama di kawasan Asia Pasifik. Tetapi kenyataannya, kemampuan kita untuk ikut berperan secara signifikan dalam ikut serta nimbrung menentukan warna kebijakan/politik energi dunia belumlah kelihatan.<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family: Arial" lang="IT" xml:lang="IT">Mungkin lebih tepat, jika ada ungkapan seperti ini,” Mending amati sajalah apa yang terjadi di luar sana, lalu optimalkan dalam ngurusi dapur sendiri”. Sebab di sepanjang 2007 ini, sebagaimana kisruh energi dunia, Indonesia juga heboh untuk sektor energinya.</span> <span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV">Kelihatannya pemerintah masih mengalami kebingungan dalam menentukan arah kebijakan energinya. Lihat saja,<br /></span></font><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Briket batubara, <span>&#160;</span>sudah tidak ketahuan juntrungannya<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Program bahan bakar nabati, apakah sudah ketemu lahannya, apakah harganya secara ekonomi bersaing, bahan baku dari CPO apakah masih mungkin dilanjutkan, jarak pagar apakah sudah dapat diproduksi secara ekonomis, bagaimana dukungan infrastrukturnya.<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Program konversi minyak tanah ke elpiji, juga masih jauh dari target.<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Subdisidi komoditi energi masihkah terus dipertahankan, padahal sudah jelas tidak tepat sasaran<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Kebijakan ekspor energi masihkah jadi idola<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Pembangunan PLTN masih semangat untuk dilanjut atau sebatas ujicoba terhadap tingkat penerimaan masyarakat<br /></font></span><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Dan mungkin masih banyak lagi, entahlah&#8230;&#8230;<br /></font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Ha..ha, di zaman gini kok masih bingung-bingung aja,<br /></font></span> <span style="font-family: Arial" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2">Lalu kapan melangkahnya, entahlah&#8230;.<br /></font></span>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://innocent.blog.com/2007/11/02/kisruh-energi-di-tahun-2007/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fokus Issue</title>
		<link>http://innocent.blog.com/2007/10/31/fokus-issue/</link>
		<comments>http://innocent.blog.com/2007/10/31/fokus-issue/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 15:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cili</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Beberapa issue pokok yang menjadi concern dalam blog ini, adalah sebagai berikut: a. Kebijakan Energi b. Ekonomi Energi c. Politik Energi Tulisan-tulisan akan disupply setiap bulan, mulai awal minggu pertama bulan november 2007. so..... Ditunggu aja ya... Salam Abdul Nasir
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Beberapa issue pokok yang menjadi concern dalam blog ini, adalah sebagai berikut: a. Kebijakan Energi b. Ekonomi Energi c. Politik Energi Tulisan-tulisan akan disupply setiap bulan, mulai awal minggu pertama bulan november 2007. so&#8230;.. Ditunggu aja ya&#8230; Salam Abdul Nasir
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://innocent.blog.com/2007/10/31/fokus-issue/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
